Oleh : Noe
(mahasiswi FT. UMRAH)
Sore itu, Bunga duduk seorang diri di tepi balkon kamarnya. Memandang nanar ke arah langit yang baginya sungguh kelabu, walaupun sebenarnya sore itu sangat cerah. Ia tengah memikirkan kejadian tadi malam. Kejadian yang membuat matanya tak dapat terpejam barang sedetikpun. Beberapa bulan ini, ia memang sering mendengar pertengkaran papa dan mamanya. Namun, pertengkaran tadi malam adalah pertengkaran paling hebat dalam sepanjang sejarah rumah tangga orang tuanya. Akhirnya ia mendengar kalimat paling mengiris hatinya. Kalimat yang baginya keramat untuk diucapkan oleh sepasang suami istri. Ia tak habis pikir, kenapa mereka yang dulunya saling mencintai, dapat bermusuhan seperti sekarang.
”Oke kalau itu mau kamu, dengan senang hati aku akan menceraikanmu.” ucap papa penuh emosi. Seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah. Wajahnyapun merah padam, seakan ada setan yang merasukinya. Akal sehatnya sudah tidak bisa ia gunakan lagi. Pikiran-pikiran rasional seorang dokter psikologi meluap entah kemana. Saat ini title dokter psikologi yang disandangnya tak kan membantu apa-apa dalam masalah rumah tangganya.
”Baik siapa takut. Ceraikan saja aku. Aku takkan mati kelaparan karena kamu ceraikan. Toh gajiku lebih besar dari gajimu yang sebagai dokter penyakit gila itu.” Kata mama tak kalah sengit. Ia mengeluarkan seluruh tenaga yang ia punyauntuk mengucapkan kata-kata itu. Kali ini mama kehilangan kata-kata manis seorang direktur yang telah biasa ia ucapkan saat bertemu dengan klien-kliennya. Kecantikan wanita muda ini hilang tak berbekas, hanya mimik wajah penuh amarah yang bisa ditemukan disana.
PRAANG...!!
Tak sengaja Bunga menyenggol vas yang ada di sampingnya. Kedua orang tuanya terkejut dan memandang asal suara. Lebih terkejut lagi ketika mereka mendapati Bunga tengah berdiri mematung dengan air mata mengalir disana. Mereka baru menyadari bahwa telah lama Bunga mendengarkan pertengkaran mereka. Bunga segera berlari ke kamarnya lalu membanting pintu. Bunga meninggalkan wajah-wajah penuh rasa bersalah di tempat kejadian prahara tadi.
(mahasiswi FT. UMRAH)
Sore itu, Bunga duduk seorang diri di tepi balkon kamarnya. Memandang nanar ke arah langit yang baginya sungguh kelabu, walaupun sebenarnya sore itu sangat cerah. Ia tengah memikirkan kejadian tadi malam. Kejadian yang membuat matanya tak dapat terpejam barang sedetikpun. Beberapa bulan ini, ia memang sering mendengar pertengkaran papa dan mamanya. Namun, pertengkaran tadi malam adalah pertengkaran paling hebat dalam sepanjang sejarah rumah tangga orang tuanya. Akhirnya ia mendengar kalimat paling mengiris hatinya. Kalimat yang baginya keramat untuk diucapkan oleh sepasang suami istri. Ia tak habis pikir, kenapa mereka yang dulunya saling mencintai, dapat bermusuhan seperti sekarang.
”Oke kalau itu mau kamu, dengan senang hati aku akan menceraikanmu.” ucap papa penuh emosi. Seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah. Wajahnyapun merah padam, seakan ada setan yang merasukinya. Akal sehatnya sudah tidak bisa ia gunakan lagi. Pikiran-pikiran rasional seorang dokter psikologi meluap entah kemana. Saat ini title dokter psikologi yang disandangnya tak kan membantu apa-apa dalam masalah rumah tangganya.
”Baik siapa takut. Ceraikan saja aku. Aku takkan mati kelaparan karena kamu ceraikan. Toh gajiku lebih besar dari gajimu yang sebagai dokter penyakit gila itu.” Kata mama tak kalah sengit. Ia mengeluarkan seluruh tenaga yang ia punyauntuk mengucapkan kata-kata itu. Kali ini mama kehilangan kata-kata manis seorang direktur yang telah biasa ia ucapkan saat bertemu dengan klien-kliennya. Kecantikan wanita muda ini hilang tak berbekas, hanya mimik wajah penuh amarah yang bisa ditemukan disana.
PRAANG...!!
Tak sengaja Bunga menyenggol vas yang ada di sampingnya. Kedua orang tuanya terkejut dan memandang asal suara. Lebih terkejut lagi ketika mereka mendapati Bunga tengah berdiri mematung dengan air mata mengalir disana. Mereka baru menyadari bahwa telah lama Bunga mendengarkan pertengkaran mereka. Bunga segera berlari ke kamarnya lalu membanting pintu. Bunga meninggalkan wajah-wajah penuh rasa bersalah di tempat kejadian prahara tadi.
***
(bersambung ke Kisah Bunga (Part 2)